Info seputar pangan nasional dan dunia

Penerapan Zero Waste Menuju Indonesia Mandiri 2020





Penggalan lirik lagu dari Koes Plus diatas tentunya tidak asing lagi bagi telinga-telinga orang Indonesia dimasa sekarang ini. Lirik yang diciptakan berdasarkan pada realitas kekayaan sumber
daya alam Indonesia dengan segala macam jenis dan keunikannya. Salah satu kekayaan yang menjadi andalan Indonesia adalah dibidang pertanian. Pertanian memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan sumber daya di Indonesia adalah salah satu alasan kenapa Indonesia berstatus sebagai negara agraris. Ruang lingkup pertanian bukan hanya berhubungan dengan bercocok tanam dan sejenisnya, tetapi juga meliputi budidaya hewan ternak (peternakan), dan budidaya sumber daya perairan (perikanan). Sehingga pertanian merupakan salah satu sektor terpenting dalam pemenuhan kebutuhan pangan secara komplek bagi masyarakat Indonesia.
Pelaku utama dari sektor pertanian adalah para petani yang dominan melakukan kegiatan pertanian didaerah pedesaan. Desa merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi sangat melimpah. Hal ini disebabkan sumber daya alam yang masih melimpah,  diantaranya adalah hasil pertanian, hasil hutan, peternakan, dan potensi kearifan lokal lainnya. Menurut Prawiradiputra (2009), kebanyakan petani  di Indonesia  ternyata belum dapat memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia dalam sistem usaha taninya secara optimal. Padahal dengan pengelolaan yang baik, hasil  yang diperoleh dari sistem usaha tani tanaman-ternak bisa lebih banyak daripada yang  diperoleh sekarang. Tentu sangat disayangkan jika potensi-potensi tersebut terus-menerus terbuang tanpa ada manfaat yang didapatkan. Salah satu contoh potensi yang  belum dimanfaatkan secara optimal adalah limbah kotoran ternak, yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah atau sampah karena bau yang ditimbulkan. Sementara itu, umumnya petani hanya memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk yang sebenarnya dapat juga dijadikan sumber energi,  dan produk turunan lain.
Pengolahan limbah kotoran ternak memiliki potensi untuk dikembangkan guna mewujudkan desa mandiri, yaitu melalui teknologi pengolahan biogas. Mengapa harus diolah menjadi biogas ? Biogas berpotensi untuk menjadi sumber energi alternatif di Indonesia  mengingat biaya produksi listrik tenaga bahan bakar mineral dan fosil yang semakin mahal. Menurut Hardianto et al. (2000) ada tiga keuntungan dari pengolahan limbah kotoran ternak menjadi biogas, diantaranya : 1) biogas dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif  menggantikan bahan bakar fosil maupun kayu bakar, 2) sisa pengolahan cair (fluid sludge)  dapat  dimanfaatkan sebagai pupuk, dan 3) ampas padat (solid sludge)  dapat menjadi campuran pakan ternak. Selain itu, pengolahan limbah kotoran ternak menjadi biogas  juga menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan di pedesaan. Konsep pengolahan limbah ini biasa disebut dengan Zero Waste pada bidang pertanian lebih khususnya peternakan. Penerapan Zero Waste pada bidang pertanian khususnya didaerah pedesaan mempunyai beberapa kelebihan misalnya, konsep Zero waste yang akan diterapkembangkan sangat sederhana, sehingga para petani yang pada ummnya mempunyai latar belakang low-educated bisa dengan mudah mengerti dan mengaplikasikannya.
Wahyuni (2011) menyatakan bahwa biogas dapat menyalakan api dengan energi 6400-6600  kcal/m3.  Energy yang terkandung dalam 1 m3 biogas setara 0,62 liter paraffin, 0,46 liter LPG, 0,52 liter bahan bakar diesel, 0,08 liter bensin, dan 3,5 kg kayu bakar.  Hasil studi menyatakan bahwa satu ekor sapi dapat menghasilkan  25 kg limbah kotoran. Jadi, dari 411  ekor ternak dapat menghasilkan 10.275 kg limbah kotoran dengan limbah kering  2.055 kg, yang  dapat menghasilkan 82,2 m3 biogas per hari. Dengan kata lain, dari 441  ekor ternak memiliki potensi untuk memproduksi 384,4 kWh per hari. Selain energi dari biogas dimanfaatkan untuk instalasi listrik, dapat juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan melalui pemanfaatan energi menjadi kompor gas. Hal tersebut disebabkan kandungan dari biogas yaitu CH4 yang sangat mudah terbakar.
            Proses pembuatan biogas menjadi sumber energi alternatif menghasilkan residu  atau hasil sampingan berupa limbah atau sampah. Hasil sampingan tersebut berupa limbah padat dan  limbah cair  yang biasa disebut dengan slurry. Tentunya dalam penerapan Zero Waste yang harus  dilakukan adalah dapat mengurangi limbah sebanyak mungkin. Oleh karena itu, slurry padat akan dimanfaatkan menjadi  pupuk (fertilizer), karena kualitas pupuk organik hasil biogas memiliki kandungan yang lebih baik daripada pupuk organik melalui proses biasa, hal ini dikarenakan pada proses fermentasi dalam digester terjadi perombakan anaerobic bahan organik, menjadi gas metan (CH4) dan asam organik yang mempunyai berat molekul yang rendah sehingga konsentrasi N, P, K akan meningkat. Untuk slurry cair dari proses pembuatan biogas dapat dimanfaatkan menjadi pembuatan pakan ikan, kemudian ditambah dengan bahan-bahan lain untuk meningkatkan kandungan gizi dari pakan tersebut seperti ampas tahu, dedak, dan bonggol jagung.
Pemanfaatan slurry dapat lebih dioptimalkan dengan melakukan suatu langkah wirausaha. Misalnya dilakukan pengemasan terhadap pakan ikan (pellet) yang bisa dijual kemasyarakat. Selain itu, dapat melalui pemanfaatan pupuk secara optimal disektor pertanian yang akan berimbas pada peningkatan hasil panen. Dari hasil panen tersebut dapat dihasilkan produk-produk turunan yang dapat dijual kemasyarakat.    
Jadi, keuntungan yang didapatkan dari penerapan Zero Waste di bidang pertanian  adalah dari segi energi, finansial, dan ekologi. Dari ketiga keuntungan tersebut pada akhirnya akan memberikan efek positif kepada masyarakat yang menerapkan sistem Zero Waste yaitu terpenuhinya kebutuhan pangan (food) secara lebih mudah, murah, dan berkelanjutan. Sehingga  nantinya dapat mencapai kemandirian ekonomi bangsa melalui gerakan Zero Waste yang akan merambah keberbagai sektor di Indonesia.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kabar Pangan. Powered by Blogger.

Blog Archive